Lasem Kota Pusaka 'Toleransi', Laboratorium Pendidikan Pancasila

- Jumat, 16 September 2022 | 09:24 WIB
Tahun toleransi Indonesia 2022. (suaramerdeka-muria.com/Abdullah Hamid)
Tahun toleransi Indonesia 2022. (suaramerdeka-muria.com/Abdullah Hamid)

Di dalam Review DED Penataan Kawasan Pusaka Lasem Tahun 2020 menghasilkan suatu model sebagai Kota Toleransi Nusantara. Lasem memiliki identitas multi kultural sebagai berikut:

1. Lasem sebagai Kota Jawa Pesisir Kuno (Era Bhre Lasem).
2. Lasem dan budaya Islam (Kota Santri dan Tujuan Ziarah.
3. Lasem dan budaya Tionghoa.
4. Lasem dan jejak peninggalan sejarah kolonial.
5. Lasem sebagai Kota Kreatif dan Akulturasi Budaya. Mengingat Lasem memiliki perjalanan sejarah yang panjang yang membentang sejak Era Hindu---)Era Muslim---)Era Muslim & Tionghoa---)Era Kolonial---)Era Kemerdekaan---)Lasem sekarang

Berdasarkan uraian di atas Lasem layak sebagai laboratorium Pendidikan Pancasila. Maksud laboratorium di sini adalah tempat khusus peneltian ilmiah, pengkajian sekaligus praktek toleransi yang ditunjang oleh adanya infrastruktur yang lengkap.

Penulis ingin menambah keterangan landasan historis dan filosofis yang menyertainya, yang menggambarkan Lasem sebagai Laboratorium Pendidikan Pancasila sebagai berikut :
1. Berdasarkan Batara Saptha Prabu atau Piagam Singasari berisi tentang penobatan atau pengangkatan Prabu Hayam Wuruk sebagai Raja ke-4 Majapahit, sekaligus pelantikan 11 raja di negeri-negeri vassal (negara agung), yang menyertai imperium Majapahit. Dan Kerajaan Lasem merupakan salah satu dari 11 negara agung yang termaktub di dalamnya. Lasem bagian tidak terpisahkn integrasi nusantara.
Dua naskah kuno mencatat peristiwa penting itu, yaitu Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada abad 14, dan Kitab Pararaton yang ditulis pada abad 15 dan 16.
Karya sastra yang paling terkenal pada zaman Majapahit adalah Kitab Negarakertagama. Kitab ini ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 M. Di samping menunjukkan kemajuan di bidang sastra, Negarakertagama juga merupakan sumber sejarah Majapahit. Di dalam kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca dijelaskan bahwa Pancasila berisi ajaran sebagai berikut: 1) Dilarang membunuh 2) Dilarang mencuri 3) Dilarang berzina 4) Dilarang berdusta 5) Dilarang meminum minuman keras, (Kebudayaan, 2014).
Kitab lain yang penting adalah Sutasoma. Kitab ini disusun oleh Empu Tantular. Kitab Sutasoma memuat kata-kata yang sekarang menjadi semboyan negara Indonesia, yakni Bhineka Tunggal Ika.
2. Badra Nala Penguasa Lasem, cicit dari Rajasa Wardhana dan Duhitendu Dewi, Bhree Lasem, sebelum wafatnya pada tahun 1389 Saka/ 1468 M sebagaimana disebutkan dalam Kitab Carita Lasem yang ditulis oleh RM.Panji Kamzah berwasiat pada putranya:“Pangeran Wira Bajra supaya enggal pindhah yasa dalem kadipaten ring Bonang bumi Binangun lan nglegakna kawulane padha ngrasuk agama rasul”.
Artinya “ Pewaris tahta Pangeran Wira Bajra agar segera memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Lasem ke Bonang Binangun dan memberikan kebebasan pada rakyatnya masuk agama rasul/Islam”. Merupakan bentuk nilai-nilai luhur kebebasan beragama.
Kitab Carita Lasem menjelaskan sebab-sebab yang mendorong masyarakat di Jawa masa itu masuk Islam sbb :
Ing nalika jaman penguasane Prabu Bhree Kertabumi aneng Majapait kuwi wis akeh kawula kang wis padha ngrasuk agama Rasul. Sebab pranatan lan sipate agama sing anyar sing lagi sumebar kuwi :
1. Ora kakehan ragad, ora kakehan ngetokake dhuwit, ora kakehan mbuwang barang kang tanpa tanya.
2. Ora kakehan sajen-sajen dan upacara-upacara sing pating clekunik.
3. Ora kakehan puja mantra sing nglantur dawa.
4. Ora kakehan leladi bekti marang dewa-dewa utama makhluk-makhluk maya.
5. Ora ana tatacara sing ngrekasakake raga.
6. Mbrastha kasta lan nyuwak panglengkara.
7. Sayuk rukun, nglungguhi tatakrama
Artinya : Sejak zaman Kertabhumi menjadi raja di Majapahit, telah banyak rakyat yang memeluk Agama Islam. Sebab agama baru yang menyebar tersebut (Islam) mempunyai pranata dan sifat :
1. Tidak banyak macam-macam, tidak banyak mengeluarkan uang, tidak banyak membuang barang secara sia-sia.
2. Tidak banyak sesajian-sesajian dan upacara-upacara yang menyulitkan (ribet; njelimet)
3. Tidak banyak membaca mantra-mantra pemujaan yang berpanjang lebar.
4. Tidak banyak bentuk persembahan kepada dewa-dewa dan makhluk-makhluk maya.
5. Tidak ada kegiatan-kegiatan ritual yang memberatkan dan menyakiti diri.
6. Menghapuskan kasta dan mengabaikan perbedaan kelas sosial (kekayaan dan jabatan).
7. Mengedepankan kerukunan/kedamaian dalam pijakan aturan dan tatakrama
3. Wira Bajra putranya pun naik tahta. Di pusat kerajaannya di Bonang Binangun membangun Bandar Teluk Regol yang ramai, banyak dikunjungi pedagang asing. Menunjukkan sikap terbuka dan adanya pergaulan/ persahabatan antar bangsa.
4. Sunan Bonang datang di daerah ini yang kemudian dikenal sebagai Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kab.Rembang, tempat ia membangun masyarakat dengan mendirikan pesantren., pasujudan Sunan Bonang, dan tempat ia terakhir dimakamkan. Peranmya dalam dakwah dan pendidikan sangat besar, mengingat santrinya berasal dari berbagai pulau di nusantara dalam rangka pencerdasan kehidupan bangsa. Dan secara tidak langsung ikut mempersatukan nusantara.
Sunan Bonang (Maulana Ibrahim) dikenal dengan sebutan pencipta gending yang pertama. Tembang Tombo Ati yang populer merupakan gubahan Sunan Bonang.
Sejumlah karya karangan kitab suluknya yang asli masih tersimpan di Perpustakaan Leiden Belanda.
5. Pada masa Adipati Lasem Tejakusuma I atau Mbah Srimpet, Kadipaten Lasem melakukan pembangunan seperti konsep Kerajaan Mataram pada saat itu, yaitu:
a) Melakukan pembangunan masjid sebagai pusat syiar agama islam.
b) Membangun pasar sebagai pusat perekonomian (pasar kawak, sumurkepel sumber girang).
c) Membangun alun-alun sebagai pusat kegiatan, dulu ditandai dengan pohon ringin yang besar & rindang (sekarang menjadi ruko-ruko).
d) Pusat pemerintahan (kadipaten) yang berdekatan dengan itu (Soditan)
Mbah Srimpet wafat tahun 1632 M
6. Mbah Sambu atau dikenal juga dengan Sayyid Abdurrahman merupakan tokoh legendaris di Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah wafat tahun 1671 M. Beliau adalah salah satu penyebar ajaran Islam di daerah Lasem. Mbah Ssambu adalah walinegara (Guru Agama Islam) di Lasem yang merupakan pendatang dari Tuban. Beliau dipanggil di Lasem oleh Adipati Tedjokusuma I untuk diangkat sebagai Walinegara Kadipaten Lasem dan dijadikan sebagai menantu. Beliau oleh masyarakat sekarang yang akrab dikenal dengan sebutan Mbah Sambu yaitu berasal dari namanya Syech Maulana Sam Bwa Asmarakandhi. Beliau merupakan salah satu ulama’ tersohor sampai sekarang. Kebanyakan para ulama’, kyai, dan orang-orang besar menisbatkan nasabnya pada Mbah Sambu. Dan bahkan ada yang mengatakan bahwa hampir seluruh ulama’ di Jawa adalah keturunan dari Mbah Sambu. Salah satu keturunannya adalah KH.Abdurrahman Wahid ,Presiden RI ke 4
Peranan Mbah Sambu sangat besar membangun tradisi keagamaan di masyarakat, baik hubungannya dengan Tuhan atau pun sesama manusia.
7. Kyai Ali Baidlowi atau Ki Joyo Tirto diceritakan dalam Babad Lasem pada bulan Agustus 1750 M sehabis sholat jum’at di Masjid Jami Lasem, menyerukan ummat Islam Perang Sabil, menyerang markas penjajah Belanda di Rembang. Jamaah masjid menerima seruan jihad dengan antusias dan penuh ikhlas, bersatu padu bersama pejuang-pejuang lainnya.
Nurhajarini, Dwi Ratna, dkk, peneliti dari BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya) Yogyakarta pada tahun 2015 dalam bukunya yang berjudul, Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya menilai arti penting peristiwa bersejarah tersebut, merupakan simbol kepahlawanan dan persatuan (pluralitas) di Lasem antara kalangan Tionghoa, santri, bangsawan dan abangan yang monumental yang perlu diabadikan. Dengan tokoh 3 (tiga) serangkai, yaitu RP Margono, Kyai Ali Baidlowi dan Oei Ing Kiat.
Sebelumnya juga kisah heroik diceritakan dalam bahasa Jawa sbb: wong-wong padha gumruduk ngumpul jejel pipit ing alun-alun sangarepe Mesjid Jami Lasem, padha sumpah prasetya maring RP Margono, lega lilla sabaya pati sukung raga lan nyawa ngrabasa nyirnakake kumpeni walanda ing bhumi jawa.
8. KH.Baidlowi Lasem pencetus yang pertama kali dan melegitimasi kepemimpinan Bung Karno. Ketika Bung Karno ditetapkan sebagai presiden pertama Republik Indonesia, sebagian kelompok Islam tidak setuju. Tarik ulur silih berganti antarsesama ulama mengenai hujjah atas status Bung Karno. Setelah perdebatan tak menemukan titik temu alias deadlock, Kiai Wahab Chasbullah meminta saran Kiai Baidlowi. Di hadapan para ulama, Kiai Baidlowi mengatakan, “Soekarno Huwa Waliyyul Amri Adl-Dloruri Bisy Syaukah (Soekarno, dia adalah Presiden RI yang sah karena darurat). Dari konsep di atas dapat disimpulakan bahwa: pengangkatan sama dengan proses ataupun menetapkan seseorang pada sebuah jabatan yaitu menetapkan Presiden Soekarno sebgai pemimpin yang wajib dipatuhi dan ditaati oleh umat Islam selama tidak menyalahi syariat. Kemudian dibacakan oleh KH. Wahab Hasbullah dalam pidatonya yang berjudul : waliyul-amri adl-dlarûrî bisy- syaukah di parlemen tanggal 29 Maret 1954
9. Menurut Mbah Ma’shoem Lasem “Saya sudah menggunakan tarekat langsung dari Kanjeng Nabi Muhammad, yakni berupa Hubb al-Fuqara wa al-Masakin (mencintai kaum fakir miskin). Beliau juga bermimpi bertemu nabi sedang membawa daftar sumbangan untuk pembangunan pesantren, dan berpesan kepada Mbah Ma’shoem, “Mengajarlah … dan segala kebutuhanmu Insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.” Ketika dikonsultasikan dengan Kyai Hasyim Asy’ari, yang biasa memanggil Mbah Ma’shoem dengan sebutan Kangmas Ma’shoem karena sudah amat akrab, mengatakan mimpi itu sudah jelas dan tak perlu lagi ditafsirkan. Setelah mimpi-mimpinya itulah beliau menetap di Lasem dan istiqamah mengajar.
Hubb al Fuqara dan Mengajar adalah keteladanan beliau menghasilkan banyak alumni sebagai kader bangsa yang memiliki karakter unggulan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mbah Ma’shoem wafat tahun 1972 M
10. Interaksi sosial yang harmonis antar etnis di Lasem yang sangat plural sejak dahulu inilah yang menyebabkan Lasem tidak terkena imbas kerusuhan rasial yang terjadi di Solo Jawa Tengah tahun 1980 dan era reformasi tahun 1998. Hal itu ditopang oleh spirit Lasem Milik Bersama yang dimiliki berbagai etnis dan golongan yang lebih mengedepankan dialog. Tentu saja harus ada ikhtiar terus menerus melestarikan nilai –nilai luhur tersebut.

Demikian sebagian butir -butir Pendidikan Pancasila yang dapat disajikan penulis , sesungguhnya akan semakin dalam dan banyak jika kita mau menggali lebih jauh di Lasem.Terimakasih.

Lasem, 9 September 2022

*) Dosen STAI Al-Hidayat, Lasem.

Halaman:

Editor: Ilyas al-Musthofa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASN (GURU) HARUS MAMPU MELAYANI DENGAN TEKNOLOGI

Senin, 28 November 2022 | 22:23 WIB

Peer Counseling Cara Jitu Mengatasi Body Image

Senin, 3 Oktober 2022 | 21:14 WIB

Menggagas Pengelolaan CSR yang Lebih Baik

Kamis, 14 April 2022 | 14:00 WIB

Bermain Kreatif dengan Media Loose Part

Senin, 3 Januari 2022 | 14:26 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Blora ke – 272

Minggu, 5 Desember 2021 | 12:45 WIB

Sampah dan Simbol Kekuasaan

Rabu, 10 November 2021 | 09:50 WIB

Menunggu Hasil Pembenahan E – Warung

Kamis, 30 September 2021 | 06:40 WIB

Industri Cukai dalam Bayangan Asap Rokok Ilegal

Jumat, 3 September 2021 | 12:35 WIB

Nilai Hijrah Nabi SAW

Jumat, 6 Agustus 2021 | 10:05 WIB
X