Industri Cukai dalam Bayangan Asap Rokok Ilegal

- Jumat, 3 September 2021 | 12:35 WIB
Anton W Hartono.
Anton W Hartono.

Saat aparat menghadang laju produksi dan distribusi rokok ilegal, pengusaha yang nakal masih berusaha berkelit. Mereka biasa menggunakan warga sekitar sebagai tameng produksi rokok polos. Warga dijanjikan pekerjaan, namun risikonya harus berhadapan dengan aparat. Sedangkan pemiliknya bebas melenggang karena selalu mengaburkan identitasnya.

Sistem sel dibangun. Setiap komponen produksi tidak saling mengetahui apalagi mengenal pihak-pibak di dalamnya. Segala sesuatunya dibuat buram. Jadi, saat digerebek petugas mereka kesulitan menjelaskan siapa pemilik usahanya.

Jenis rokok ilegal pun beragam, mulai tanpa melekati pita cukai, menggunakan pita cukai palsu atau bahkan yang kadaluarsa serta bukan peruntukannya. Sistem produksi rokok ilegal tidak seribet yang resmi.

Konon, pemodal cukup menjelaskan jenis rokok seperti apa yang akan dibuatnya. Selanjutnya, dia meminta sindikat tertentu menjahitkan atau membuat rokok ilegal. Fakta tersebut dibuktikan dengan pelaku rokok ilegal yang memproduksi beberapa merek sekaligus.

Adapun modus pendistribusiannya juga semakin lihai. Selain menggunakan jalur tikus atau bukan akses utama, mereka biasa mengelabuhi produk ilegalnya dengan cara appun. Suatu ketika aparat menjumpai tumpukan rokok ilegal dibalik pengiriman furniture, lain waktu dititipkan pada angkutan umum.

Namun, sering terjadi pengiriman rokok ilegal secara terang-terangan seakan menantang aparat.

Petugas Bea dan Cukai Kudus harus ekstra keras menghadang produksi rokok ilegal. Keberadaan pabrik rokok mentereng di Kudus menjadi dana tarik utama. Produksi boleh berasal dari kabupaten tetangga. Namun, cap Kudusan sering digunakan sebagai pemanis agar rokok ilegal laku di pasaran.

Jenis rokok ilegal yang disita sigaret keretek mesin (SKM). Perkembangan teknologi mengimbas kemampuan mesin memproduksi ribuan batang rokok dalam semenit. Terkadang. aparat juga menyita sigaret keretek tangan (SKT) tetapi jumlahnya tidak seberapa besar.

Tidak butuh teknologi yang njimet untuk mencetak pita cukai palsu, komponen yang menjadi akar persoalan rokok ilegal. Perkembangan teknologi printing memungkinkan usaha tersebut dapat dilakukan dalam skala rumahan. Namun, patut diwaspadai kemungkinan usaha melibatkan pemodal besar, lengkap dengan piranti canggih penduplikasi cukai palsu.

Ditambahkan Gatot, cukai ilegal tidak kalah ''menjanjikan'' dibandingkan uang palsu. Perhitungan yang dibuat beberapa tahun yang lalu, dari sisi harga, cukai palsu untuk sigaret keretek tangan (SKT) misalnya per rim harganya hanya Rp 7 jutaan, dari harga sebenarnya Rp 46,5 juta.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ASN (GURU) HARUS MAMPU MELAYANI DENGAN TEKNOLOGI

Senin, 28 November 2022 | 22:23 WIB

Peer Counseling Cara Jitu Mengatasi Body Image

Senin, 3 Oktober 2022 | 21:14 WIB

Menggagas Pengelolaan CSR yang Lebih Baik

Kamis, 14 April 2022 | 14:00 WIB

Bermain Kreatif dengan Media Loose Part

Senin, 3 Januari 2022 | 14:26 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Blora ke – 272

Minggu, 5 Desember 2021 | 12:45 WIB

Sampah dan Simbol Kekuasaan

Rabu, 10 November 2021 | 09:50 WIB

Menunggu Hasil Pembenahan E – Warung

Kamis, 30 September 2021 | 06:40 WIB

Industri Cukai dalam Bayangan Asap Rokok Ilegal

Jumat, 3 September 2021 | 12:35 WIB

Nilai Hijrah Nabi SAW

Jumat, 6 Agustus 2021 | 10:05 WIB

Membangkitkan Legenda Macan Muria

Jumat, 6 Agustus 2021 | 09:32 WIB
X