Industri Cukai dalam Bayangan Asap Rokok Ilegal

- Jumat, 3 September 2021 | 12:35 WIB
Anton W Hartono.
Anton W Hartono.

KUDUS, suaramerdeka-muria.com - Cerita panjang kemeluk asap rokok ilegal mungkin serupa berlikunya dengan sejarah udud itu sendiri. Sejak Rara Mendut berjualan rokok untuk membayar pajak karena menolak menikah dengan Tumenggung Wiraguna, sejak saat itu pula barang hisapan tersebut melegenda dengan sederet persoalannya.

Historia mencatat kumpeni membuat Tabsaccijns Ordonnantie Stbl Nomor 517 untuk mengatur peredaran cukai. Disusul kemudian pendirian Dienst der Invoer en Uitvoerrechten en Accijnzen atau semacam Bea Cukai kala itu. Semakin tingginya pajak rokok dan banyaknya kaum pengasap, mungkin menjadi alasan munculnya rokok tanpa cukai alias ilegal.

Kudus sebagian bagian dari nukilan panjang sejarah rokok terkena imbasnya. Predikat Kota Keretek membuat labelisasi rokok asal lereng Gunung Muria ini sangat mengena di hati para perokok. Tidak jarang, produk abal-abal asal daerah lain ditempeli made in Kudus untuk mendongkrak pemasaran. Pun, hingga saat sekarang rokok ilegal masih belum terbendung.

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya mempunyai deretan panjang fakta rokok ilegal.

Tiga tahun terakhir nilai rokok ilegal yang disita cukup mengejutkan. Penyitaan rokok ilegal tahun 2019 mencapai Rp 15,2 miliar, disusul tahun  2020 (Rp 18,76 miliar) dan 2021 (Rp 8,6 miliar).

Jika dihitung dalam batangan, tahun 2021 tercatat 21,07 juta batang rokok yang disita, 2020 (18,4 juta batang) dan 2021 (8,4 juta batang). Perkiraan potensi kerugian negara yang dapat diselamatkan saat penindakan rokok ilegal pada tiga tahun tersebut masing-masing Rp 10,06 miliar, Rp 10,82 miliar dan Rp 5,83 miliar.

Kepala Bea dan Cukai Kudus Gatot Sugeng Wibowo mengakui perbedaan harga rokok polos dengan rokok resmi cukup njomplang. Mungkin, kondisi tersebut yang menarik minat pelaku usaha rokok ilegal beroperasi. Fakta peningkatan jumlah perokok dan ketidakmampuan sebagian pengguna membeli rokok resmi, seakan menjadi alasan sempurna produk ilegal merajalela.

''Sesuai kewenangan kami, penindakan rokok ilegal dilakukan dari hulu ke hilir serta sebaliknya,'' katanya.

Selain dikenal sebagai daerah penghasil rokok resmi, wilayah kerjanya endemi barang hisapan ilegal. Lagi-lagi, trade mark rokok Muria kembali menjadi pemanis produk dan jaminan kualitas.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bermain Kreatif dengan Media Loose Part

Senin, 3 Januari 2022 | 14:26 WIB

Makna Angka 9 di Hari Jadi Blora ke – 272

Minggu, 5 Desember 2021 | 12:45 WIB

Sampah dan Simbol Kekuasaan

Rabu, 10 November 2021 | 09:50 WIB

Menunggu Hasil Pembenahan E – Warung

Kamis, 30 September 2021 | 06:40 WIB

Industri Cukai dalam Bayangan Asap Rokok Ilegal

Jumat, 3 September 2021 | 12:35 WIB

Nilai Hijrah Nabi SAW

Jumat, 6 Agustus 2021 | 10:05 WIB

Membangkitkan Legenda Macan Muria

Jumat, 6 Agustus 2021 | 09:32 WIB
X