Peringatan Satu Abad Perjuangan Samin Surosentiko : Gerakan Samin Relevan Dipraktikkan di Kehidupan Modern?

- Rabu, 16 Maret 2022 | 19:30 WIB
Dua tokoh Samin Pramugi Prawiro Wijoyo dan Gunretno memakaikan ikat kepala kepada Bupati Blora H Arief Rohman dan Walikota Sawahlunto Deri Asta di peringatan satu abad perjuangan Samin Surosentiko, Selasa (15/3/2022) malam. (suaramerdeka.com/Abdul Muiz)
Dua tokoh Samin Pramugi Prawiro Wijoyo dan Gunretno memakaikan ikat kepala kepada Bupati Blora H Arief Rohman dan Walikota Sawahlunto Deri Asta di peringatan satu abad perjuangan Samin Surosentiko, Selasa (15/3/2022) malam. (suaramerdeka.com/Abdul Muiz)

LEBIH dari satu abad yang lalu, gerakan Samin mewarnai perlawanan rakyat kecil kepada penjajah kolonial Belanda. 

Gerakan tersebut dipandang masih sangat relevan diterapkan di kehidupan modern.

Dari peringatan satu abad perjuangan Samin Surosentiko di Blora, semangat melestarikan ajaran dan gerakan Samin diteguhkan kembali. 

Baca Juga: Peringatan Satu Abad Perjuangan Samin Surosentiko : Film Geger Samin Ungkap Perlawanan Samin Melawan Belanda

Dilahirkan di Dukuh Ploso, Desa Kediren, Randublatung, Blora, pada 1859, Raden Kohar tumbuh besar di tengah penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah kolonial Belanda.

Beranjak dewasa dengan didikan sang ayah, Surowijoyo, Raden Kohar yang lebih masyhur dikenal dengan sebutan Samin Surosentiko melakukan gerakan perlawanan kepada kolonial Belanda dengan caranya sendiri.

Samin Surosentiko meninggal di Sawahlunto pada 1914 saat menjadi tawanan kolonial Belanda yang diperkejakan di tambang batubara di Sawahlunto.

DS Priyadi sutradara film Geger Samin : Surosentiko 1859-1914 menyebut Surosentiko adalah seorang mahaguru yang menyebarkan ajaran hidup serta pikiran-pikiran kritisnya selama hampir dua dasawarsa, mulai tahun 1889 sampai 1907. ‘’Perguruan Adam yang didirikan di Blora merupakan pusat pendidikan rakyat yang masyhur hingga ke Jawa Timur,’’ ujar DS Priyadi dalam prolog film itu.

Dikatakannya, Surosentiko dan pengikutnya melakukan gerakan perlawanan tanpa kekerasan dengan menolak peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah kolonial Belanda. Gerakan tersebut disebut Sirep. ‘’Sebuah gerakan perlawanan yang dilandaskan pada asas kasih sayang kepada sesama ciptaan,’’ tegas DS Priyadi.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Desa Kunir Jadi Kampung Siaga Bencana Pertama di Jepara

Selasa, 22 November 2022 | 18:19 WIB

Ketum PBNU Iringi Pemakaman Nyai Nafisah Sahal

Sabtu, 12 November 2022 | 18:41 WIB

Kunjungan Kapolri Silaturahmi Alim Ulama Rembang

Minggu, 30 Oktober 2022 | 16:30 WIB
X