Kisah Kretek yang Jadi Simbol Kesetaraan Bumiputera dan Nasionalisme

- Kamis, 15 September 2022 | 11:15 WIB
Koleksi pribadi keluarga pengusaha kretek Tjap Saboek yang diserahkam ke Museum Kretek Kudus. (suaramerdeka-muria.com/Saiful Annas)
Koleksi pribadi keluarga pengusaha kretek Tjap Saboek yang diserahkam ke Museum Kretek Kudus. (suaramerdeka-muria.com/Saiful Annas)

KUDUS,suaramerdeka-muria.com – Mengkaji kretek di Kabupaten Kudus tak hanya cukup melihat sisi ekonomi sebagai salah satu tulang punggung perekonomian, bahkan hingga saat ini. Jauh di masa lampau, kretek menjadi simbol kesetaraan dan nasionalisme.

Hal ini diungkapkan Sejarawan Kudus Edi Supratno pada sosialisasi koleksi Museum Kretek yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Rabu (14/9). Edi menuturkan, para pengusaha kretek masa lampau menunjukkan kedaulatan ekonomi sehingga sebagai kaum bumi putra, bisa disejajarkan dengan kalangan Eropa dan Timur Asing.

“Mbah Nitisemito (pengusaha kretek Tjap Bal Tiga) membeli mobil ford pada zaman itu tidak sekedar untuk gagah-gagahan saja, tetapi untuk menunjukkan ke golongan Eropa dan Tiongkok bahwa golongan bumi butra juga bisa sejajar,” katanya.

Baca Juga: Koleksi Museum Kretek Bertambah, Keluarga Nitisemito Hibahkan 15 Koleksi Keluarga

Pada era Orde Lama, kata Edi, para pengusaha Kretek di Kudus juga tercatat telah menyumbangkan sebagian rokok jatah buruh untuk dikirim ke tentara yang bertugas di Papua. “Terlepas pro dan kontra masalah kesehatan, kretek telah menjadi bagian penting bagi negera kita. Bahkan pendirian Heiho dan Peta yang menjadi cikal bakal tentara Indonesia, juga tak lepas dari donasi pengusaha kretek saat itu,” katanya.

Sejarah panjang kretek itu perlu dikaji, dipelajari, dan ditampilkan sebagai bahan edukasi. Salah satunya melalui Museum Kretek.

"Dengan mengenal kretek lebih jauh, maka keberadaan Museum Kretek pun akan menjadi penting bagi kita semua,” katanya.

Pada kesempatan itu, keluarga pengusaha kretek MHC Nur Hamid yang memproduksi kretek Tjap Saboek pada kurun 1909 – 1966 menyerahkan koleksi keluarga kepada Museum Kretek. Koleksi itu diantaranya piring, foto-foto repro, dan tjap merk dagang kretek.

Alvonds Ramadhaan Alexandri, cucu HMC Nur Hamid yang mewakili keluarganya menuturkan, kakeknya merintis usaha kain tenun, batik, dan kretek dengan merk Olifah. Merk itu memiliki turunan enam merk rokok, salah satunya yang terkenal rokok Tjap Saboek.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

46 Desa di Kudus Miliki Satgas Adat, Ini Tugasnya

Rabu, 23 November 2022 | 22:15 WIB

Ratusan Buruh Rokok asal Jepara Dapat BLT DBHCT

Kamis, 17 November 2022 | 19:09 WIB

Kirab Kebangsaan Ramaikan Maulid dan Haul Mbah Datuk

Minggu, 13 November 2022 | 20:19 WIB

Momen Hari Pahlawan, Bupati Hartopo Ingatkan Persatuan

Sabtu, 12 November 2022 | 06:39 WIB
X