Kasus Bocah Tasikmalaya Meninggal Usai Dirundung, Lestari Moerdijat : Konten Media Digital Harus Dibatasi

- Sabtu, 23 Juli 2022 | 09:57 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat memaparkan pentingnya literasi digital pada seminar Forum Masyarakat Peduli Penyiatan di UMK, Jumat (22/7). (suaramerdekaa-muria.com/Saiful Annas)
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat memaparkan pentingnya literasi digital pada seminar Forum Masyarakat Peduli Penyiatan di UMK, Jumat (22/7). (suaramerdekaa-muria.com/Saiful Annas)

KUDUS,suaramerdeka-muria.com – Kasus perundungan terhadap bocah sebelas tahun hingga depresi dan akhirnya meninggal oleh teman-teman sebayanya di Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi momentum untuk pembatasan konten platform digital.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai langkah Kominfo yang memaksa penyedia platform mendaftar sebagai penyelenggara sistem elektronik (PSE) sudah tepat. Kebijakan ini bisa menjadi langkah awal Pemerintah untuk mengatur konten-konten di media digital.

Hal itu diungkapkan Lestari Moerdijat pada seminar Forum Masyarakat Peduli Penyiaran di Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (22/7) siang.

Baca Juga: Disiapkan Rp 5 Miliar, Jalan Menuju Rahtawu Bakal Dilebarkan

Politisi Partai Nasdem itu mengaku tak habis pikir atas kasus perundungan yang menimpa bocah di Tasikmalaya tersebut. “Dari mana mereka mempunyai ide untuk melakukan perundungan kepada korban hingga depresi dan akhirnya meninggal. Ternyata kan dari konten media digitak yang tidak dibatasi,” katanya.

Terlebih kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) belum sampai pada pengaturan konten platform media digital. Jika konten itu ada di televisi, KPI bisa menegur pemilik televisi. Begitu juga jika konten buruk berasal dari rumah produksi, izin bisa langsung dicabut.

Namun koten di media digital berbeda. Sebab setiap pengguna bisa secara bebas mengunggah atau pun melihat konten apa pun yang mereka sukai, tanpa adanya batasan.

“Pendaftaran PSE oleh Kominfo harus dilihat sebagai upaya Pemerintah melakukan perlindungan publik, agar kasus-kasus seperti di Tasikmalaya tidak terulang lagi,” katanya.

Seperti yang sudah banyak beredar beritanya, Bocah berinisal F yang masih duduk di bangku SD di Tasikmalaya Jawa Barat meninggal dunia karena depresi. Bocah itu diduga mengalami perundungan dari teman-temannya dengan cara dipaksa mencabuli kucing.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

46 Desa di Kudus Miliki Satgas Adat, Ini Tugasnya

Rabu, 23 November 2022 | 22:15 WIB

Ratusan Buruh Rokok asal Jepara Dapat BLT DBHCT

Kamis, 17 November 2022 | 19:09 WIB

Kirab Kebangsaan Ramaikan Maulid dan Haul Mbah Datuk

Minggu, 13 November 2022 | 20:19 WIB

Momen Hari Pahlawan, Bupati Hartopo Ingatkan Persatuan

Sabtu, 12 November 2022 | 06:39 WIB
X