Jalan Lingkar Rembang-Lasem Gagal, Proyek Alternatif Disiapkan Lewati Sungai Bagan

- Kamis, 21 Juli 2022 | 16:06 WIB
Kawasan Lasem Kota Pusaka yang menjadi alasan kuat Pemkab Rembang memikirkan proyek alternatif pengganti Jalan Lingkar Rembang-Lasem. (suaramerdeka-muria.com/Ilyas al-Musthofa)
Kawasan Lasem Kota Pusaka yang menjadi alasan kuat Pemkab Rembang memikirkan proyek alternatif pengganti Jalan Lingkar Rembang-Lasem. (suaramerdeka-muria.com/Ilyas al-Musthofa)

Rembang, suaramerdeka-muria.com – Megaproyek jalan lingkar Rembang-Lasem hampir pasti gagal terlaksana.

Penyebabnya adalah ada perubahan regulasi lebar jalan yang semula 20 meter menjadi 40 meter.

Anggaran dari dana utang sebesar Rp 100 miliar untuk pembebasan lahan yang disiapkan Pemkab Rembang jauh dari kata cukup.

Atas hampir pasti gagalnya pengadaan lahan dan pembangunan jalan lingkar Rembang-Lasem, Bupati Rembang sudah menyiapkan proyek alternatif.

jalan lingkar Rembang-Lasem dibangun salah satunya untuk melindungi kawasan Lasem kota pusaka.

Sehingga, ketika megaproyek tersebut nyaris gagal, proyek atau langkah alternatif pun disiapkan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang, Fahrudin mengungkapkan, proyek alternatif yang disiapkan untuk melindungi Lasem kota pusaka adalah adanya jalan alternatif yang melewati sungai Bagan.

Baca Juga: Alamak, Mobil Dinas Bupati dan Wakil Bupati Rembang Nunggak Pajak

Baca Juga: Tolak Status Outsourcing, THL Mengadu ke Pj Bupati Jepara

Ada pemikiran untuk membuat jembatan di sungai Bagan untuk menghubungkan jalan alternatif sebelum masuk kawasan kota pusaka Lasem.

Tujuannya, kendaraan dari arah Pantura Semarang dan Surabaya tidak masuk ke kawasan kota pusaka Lasem.

“Pemikiran paling efisien, Bapak Bupati mencari terbososan paling mudah membuat jembatan di sungai Bagan Lasem kemudian dihubungkan ke jalan yang sudah ada. Anggaran itu lebih efisian. Itu alternatif ketika jalan lingkar Rembang-Lasem gagal,” jelas Fahrudin.

Menurut Fahrudin, jika Pemkab Rembang tidak membuat jalan alternatif maka kepadatan lalu-lintas di Pantura bisa mengancam arsitektur kawasan kota pusaka Lasem.

Apalagi, setelah pembangunan selesia, perawatan dan pemeliharaan kawasan Lasem kota pusaka diserahkan kepada Pemkab Rembang.

“Intinya, alternatifnya adalah bagaimana kendaraan di Pantura baik dari Surabaya atau Semarang tidak melewati kawasan kota pusaka Lasem. Agar nilai seni Lasem kota pusaka terjaga,” jelas dia.

Halaman:

Editor: Ilyas al-Musthofa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X