Manfaatkan Barang Bekas, Warga Kesambi Buat Alat Peringatan Dini Banjir

- Senin, 28 Maret 2022 | 07:05 WIB
Bukhori memasang alat deteksi peringatan dini banjir di pinggir Sungai Piji di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. (suaramerdeka-muria.com/Saiful Annas)
Bukhori memasang alat deteksi peringatan dini banjir di pinggir Sungai Piji di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. (suaramerdeka-muria.com/Saiful Annas)

KUDUS,suaramerdeka-muria.com – Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus menjadi salah satu langganan banjir setiap musim hujan. Banjir kerap datang pada malam hari. Tidak adanya peringatan dini membuat warga tak menyadari datangnya banjir.

Untuk meminimalisasi dampak banjir, Bukhori (32), warga Desa Kesambi berinisiatif membuat sendiri alat peringatan dini banjir. Alat buatan bapak dua anak itu dipasang di pinggir Sungai Piji yang melintasi Desa Kesambi.

“Banjir di Kesambi selalu terulang karena banyaknya jembatan yang melintang di sungai. Akibatnya, sampah kerap menumpuk di bawah jembatan, sehingga aliran air tidak lancar kemudian melimpas ke permukiman,” katanya.

BACA JUGA : Talut Sungai Dawe Longsor 2 Titik, Warga Ngembalkulon Lakukan Penangaan Darurat

Dengan alat itu, Bukhori ingin ada peringatan dini kepada warga, sehingga bisa bersiap-siap saat banjir datang. Minimal, warga masih punya waktu untuk menyelamatkan benda berharganya ke tempat yang lebih aman.

Uniknya, alat peringatan dini banjir yang dibuat Bukhori ini memanfaatkan alat-alat bekas yang ada. Alat itu berupa pipa yang berisi perangkat khusus dengan pelampung yang diletakkan di bibir sungai. Ketika air sungai naik, pelampung akan “memberitahu” rangkaian alat deteksi dini.

Alat itu disambungkan dengan kabel menuju amplifier dan toa yang dipasang di Balai Desa. “Cara kerjanya sederhana, ketika air naik maka sirine akan berbunyi sebagai tanda peringatan untuk warga agar bersiap-siap menghadapi banjir,” katanya, Minggu (27/3).

Rangkaian alat peringatan dini banjir itu menggunakan kebalikan sistem tandong air. “Awalnya sempat terpikir seperti otomatis pompa air, tapi kalau pompa air itu ketika air habis baru hidup. Dan ini kebalikannya," katanya.

Alatnya pun tak terlalu rumit, dengan bermodalkan barang-barang bekas seperti, peralon tiga inch, botol bekas cairan pembersih kamar mandi, patahan alat pancing, tembaga kabel bekas, hingga, lempengan fitting lampu bekas yang tidak terpakai.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

46 Desa di Kudus Miliki Satgas Adat, Ini Tugasnya

Rabu, 23 November 2022 | 22:15 WIB

Ratusan Buruh Rokok asal Jepara Dapat BLT DBHCT

Kamis, 17 November 2022 | 19:09 WIB

Kirab Kebangsaan Ramaikan Maulid dan Haul Mbah Datuk

Minggu, 13 November 2022 | 20:19 WIB

Momen Hari Pahlawan, Bupati Hartopo Ingatkan Persatuan

Sabtu, 12 November 2022 | 06:39 WIB

Di Kudus, 391 Orang Telah Daftar Seleksi PPPK Guru

Sabtu, 12 November 2022 | 06:33 WIB
X