Penanganan Banjir Bandang Wonosoco Terabaikan

- Kamis, 2 Desember 2021 | 07:15 WIB
Aliran sungai di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang kerap melimpas saat hujan deras hingga menyebabkan banjir di permukiman. (suaramerdeka.com/Anton WH)
Aliran sungai di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang kerap melimpas saat hujan deras hingga menyebabkan banjir di permukiman. (suaramerdeka.com/Anton WH)

KUDUS,suaramerdeka-muria.com - Banjir bandang dari lereng Pegunungan Kendeng mengarah ke pemukiman Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan terjadi nyaris setiap tahun selama lebih dari satu dekade terakhir. Selain merusak infrastruktur setempat, juga menenggelamkan potensi desa wisata dan budaya yang telah dirintis.

Bahkan, banjir bandang juga menyeret wisatawan lokal pada 2018 dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia beberapa jam setelah terjangan material dari lereng Pegunungan Kendeng.

Ironisnya, hingga saat ini belum ada upaya komprehensif untuk mengatasi bencana tahunan tersebut. Segala usulan, wacana, dan kajian menguap begitu saja. Selalu terjadi perulangan persoalan yang sama, dari satu kejadian bencana ke kejadian bencana berikutnya. November 2021, tanggal 2 dan tanggal 29 terjadi musibah yang sama.

BACA JUGA : Banjir Bandang Terjang Wonosoco, Rumah Warga Terendam Lumpur

Serangkaian kejadian tersebut mengguritkan trauma yang mendalam. Bahkan, hingga Rabu (1/12), dari pantauan Suara Merdeka masih ada warga yang enggan tinggal di rumahnya sendiri karena beberapa waktu yang lalu diterjang banjir bandang.

''Bulan ini ada lima rumah yang rusak,'' kata Kades Wonosoco, Setiyo Budi, saat ditemui Suara Merdeka di lokasi, Rabu (1/12).

Terjangan material dan air dari lereng Pegunungan Kendeng cenderung meningkat. Dia menduga, hal tersebut terkait kondisi hutan kritis di perbatasan Kudus-Pati. Ratusan hektare lahan yang hanya dipenuhi tanaman semusim dan tergolong kritis tidak kuat menahan laju air.

''Jarak lahan kritis dengan pemukiman di Wonosoco sekitar setengah kilometer saja,'' ujarnya.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, diperlukan waktu sekitar setengah jam dari lahan kritis tersebut ke arah pemukiman. Pihak desa sudah berupaya mengurangi potensi kerusakan dengan memperlebar Sungai Larik Tus Cangkring.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemodal Tiongkok Minati Investasi Biogas di Kudus

Senin, 24 Januari 2022 | 06:55 WIB

Polisi Sikat Pelaku Judi Online di Kudus

Jumat, 21 Januari 2022 | 14:55 WIB

Kebakaran di Pasar Kliwon, Kantor BRI Unit Kota Ludes

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:23 WIB

Hanura Perintahkan Kader Hadir di Tengah Masyarakat

Kamis, 30 Desember 2021 | 17:20 WIB
X