Menggali Warisan Sunan Muria di Festival Pager Mangkok

- Minggu, 28 November 2021 | 22:25 WIB
Anak-anak menonton pentas wayang golek pada Festival Pager Mangkok yang digelar Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Minggu (28/11). (suaramerdeka.com/Saiful Annas)
Anak-anak menonton pentas wayang golek pada Festival Pager Mangkok yang digelar Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Minggu (28/11). (suaramerdeka.com/Saiful Annas)

KUDUS,suaramerdeka-muria.com – Jalan kampung Piji Wetan, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus akhir pekan lalu semarak dengan beragam kegiatan Festival Pager Mangkok. Pameran UMKM, seni rupa, kelas budaya, hingga pagelaran seni budaya mewarnai festival tahunan yang digerakkan Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan.

Serangkaian kegiatan itu tak semata unjuk keramaian kekayaan budaya desa semata. Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan Muchammad Zaini menuturkan, festival ini menjadi ikhtiar untuk menggali dan melestarikan budaya warisan Sunan Muria.

Pemilihan tema Pager Mangkok tak lepas dari ajaran salah satu penyebar agama Islam Wali Songo yang dimakamkan di Lereng Muria itu. Pager Mangkok adalah ajaran bersedekah untuk mempererat kerukunan antarsesama manusia.

BACA JUGA : Ada Kampung Anggur Golantepus di Kudus, PKK Dorong Pengembangan Potensi Desa

Festival Pager Mangkok digelar  Kamis – Minggu (25-28/11). Pada pementasan wayang golek Minggu pagi misalnya. Anak-anak ditemani para orang tua rela berlama-lama dibawah gerimis tipis menonton pagelaran wayang golek yang dibumbui pesan-pesan menjaga lingkungan di halaman SMA Hidayatul Mustafhidin.

Zaini menuturkan, dalam perjalan Festival Pager Mangkok ia menemukan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi kekayaan budaya kampungnya. Selain kopi khas, ia menemukan khasanah kuliner lokal pada cendol ganyong.

Cendol yang dibuat dari ganyong, umbi-umbian yang banyak tumbuh di lereng Muria. Ganyong diolah menjadi tepung kemdian dibuat menjadi cendol.

“Dari kisah tokoh-tokoh sepuh kampung, kami menemukan cerita tawur cendol yang digelar selepas salat Istisqa yang digelar di kawasan petilasan Mbah Ruji. Cerita-cerita kearifan lokal ini kembali dituturkan saat kami menggagas festival pager mangkok,” katanya.

Kekayaan cerita lokal ini, menurut Zaini, menarik jika diwujudkan dalam bentuk museum folklore (atau cerita rakyat), termasuk nilai ajaran dalam pager mangkok. “Ada keinginan selain menjadikan Festival Pager Mangkok sebagai acara budaya tahunan, juga mendokumentasikan folkor melalui wujud museum,” katanya.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X