'Berlayar' Jauh dengan Kapal Kandas, Siasat Pebatik Bertahan di Tengah Pandemi

- Rabu, 27 Oktober 2021 | 22:25 WIB
Pemilik Muria Batik Kudus Yuli Astuti menjelaskan motif batik kapal kandas kepada Area Manager Comm, Rell & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho, Selasa (26/10). (suaramerdeka.com/Saiful Annas)
Pemilik Muria Batik Kudus Yuli Astuti menjelaskan motif batik kapal kandas kepada Area Manager Comm, Rell & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho, Selasa (26/10). (suaramerdeka.com/Saiful Annas)

KUDUS,suaramerdeka-muria.com - Ada kisah panjang dibalik selembar kain batik tulis kapal kandas. Kisah pencarian yang berpijak dari cerita legenda tentang kapal kandas di wilayah Kudus. Kabupaten kecil di Jawa Tengah yang saat ini justru tidak memiliki garis pantai.

Yuli Astuti, pebatik tulis khas Kudus melakukan pencarian hingga menemui tokoh tetua di puncak Argo Jembangan Gunung Muria. Ia masih ingat harus berjalan kaki hingga enam jam ke puncar Argojembangan Muria, 2008 silam.

Dari situlah mengalir kisah kapal kandas. Kesempatan itu juga dimanfaatkan Yuli untuk menggali kembali motif-motif lokal seperti buah parijoto, hingga tanaman dan buah-buahan khas lereng Muria lainnya.

BACA JUGA : Lampu Asmaul Husna di Blora, Ini Fakta yang Dibeberkan Pertamina

Dari penelitian dan pencairan yang tak sebentar itu, kemudian lahirlah kembali batik tulis khas Kudus motif kapal kandas dari tangan Yuli. “Setelah jadi, respons pecinta batik beragam. Bahkan ada yang kurang sreg karena ada kata kandas yang mengandung makna negatif. Pelan-pelan saya jelaskan makna dibalik kapal kandas,” katanya.

Menurut sejarah, wilayah Muria dulu terpisah oleh laut dengan tanah Jawa. Dari situlah muncul legenda kapal armada Laksamana Cheng Ho yang kandas di perairan Muria. Kapal itu membawa rempah-rempah yang kemudian tumbuh subur di lereng Muria, salah satunya tanaman parijoto.

“Dari peristiwa kapal kandas itu ada kisah kehidupan baru, karena rempah-rempah dan tanaman dari kapal itu justru menghidupi warga hingga saat itu,” kata Yuli.

Pelan tapi pasti, pecinta batik pun menangkap pesan dibalik motif kapal kandas. Batik tulis motif kapal kandas hingga kini menjadi salah satu motif yang paling banyak dicari oleh penggemar batik tulis.

Keinginan menjadi pebatik muncul pada diri Yuli setelah prihatin jumlah pebatik tulis khas Kudus yang satu demi satu menutup usahanya. Pada tahun 2005, bahkan hanya tersisa satu orang pebatik paruh baya yang masih setia membuat batik dengan motif khas Kudus.

Melihat kondisi itu, Yuli pun membulatkan tekad untuk terjun menggeluti batik tulis. Lewat selembar kain batik, Yuli bercerita tentang Kudus sekaligus mengangkat kembali citra batik tulis khas Kudus.

Di era 1940-an hingga tahun 1970-an, kata Yuli, Kudus terkenal dengan produk batiknya. Kemudian di medio 1970, batik Kudus mulai mengalami pasang surut karena peralihan tren industri di kota Kudus.

Paham dengan sejarah jatuh bangun industri batik di kota kelahirannya tersebut, Yuli bertekad untuk menjadi sociopreneur dengan melakukan pelatihan bagi anak-anak sekolah, anak-anak difabel, dan perempuan di sekitar tempat usahanya di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

“Ini warisan budaya Indonesia, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk dapat memberikan warisan budaya ini kepada generasi masa kini,” kata Yuli.

Atas komitmen dan kerja kerasnya itu, bisnis Yuli dilirik Pertamina menjadikannya mitra binaan pada 2017. Setahun kemudian, Yuli mendapat penghargaan juara pertama untuk Local Hero Pertamina 2018.

Kemitraan itu seolah membuka lebar-lebar jalan bisnis Muria Batik Kudus. Beragam pelatihan, pameran, dan fashion show seperti di Malaysia hingga pameran virtual yang baru-baru ini dilaksanakan yaitu Pertamina SMEXPO 2021.

“Selain pendampingan itu kami juga mendapat akses pinjaman lunak. Di awal-awal usaha dulu bahkan ditawari Pertamina pinjaman hingga Rp 50 juta. Namun karena usaha belum stabil, saya malah takut. Takut tidak bisa mengembalikan,” kenangnya.

Dengan modal surat kendaraan miliknya, ia pun memberanikan mengajukan pinjaman Rp 10 juta. Tak dinyana, Pertamina justu memberi pinjaman hingga Rp 15 juta. Angka itu bahkan jauh lebih tinggi diatas harga sepeda motor miliknya.

“Dengan pendampingan dan pinjaman lunak itu, Alhamdulillah usaha berkembang. Saat ini bahkan dipercaya dengan kucuran pinjaman modal dari Pertamina hingga Rp 150 juta,” ujarnya.

Sadar akan luasnya pangsa pasar batik tulis khas Kudus, Yuli pun serius menggarap pasar segmen kelas atas melalui batik premium. Batik jenis inig diminati kaum hawa di berbagai daerah di Indonesia.

Batik Yuli bahkan berlayar jauh hingga luar negeri. Sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Tiongkok menjadi pasar tetapnya.

Berbagi Lewat Masker

Pandemi Covid-19 turut memberi pukulan telak bagi bisnis batik Muria Kudus milik Yuli. Tidak adanya pameran hingga pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat membuat seluruh usaha terpukul, tak terkecuali usaha yang digeluti Yuli.

Melihat kain dan bahan baku batik menumpuk, ditambah perajin yang menganggur, Yuli pun memutar otak. Di awal-awal pandemi, Yuli membuat inovasi masker kain batik.

“Semula diniati untuk berbagi masker karena melihat kain dan bahan baku menumpuk. Namun lagi-lagi masker batik kami dilirik Pertamina. Dari yang semula diniati berbagi, justru bisa menghasilkan,” katanya.

Yuli pun tak lupa menyisihkan keuntungan dari pembuatan masker itu untuk berbagi kepada warga terdampak pandemi.

“Alhamdulillah sekarang pandemi mulai mereda, usaha batik kembali menggeliat lagi. Pameran-pameran meski digelar secara privat atau virtual sudah digelar, sehingga bisa menghidupkan lagi usaha kami,” katanya.

Kerja keras dan kreatitivitas Yuli Astuti dengan Muria Batik Kudus menurut Area Manager Comm, Rell & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho, menjadi bukti wirausahawan perempuan bisa tumbuh dan berkembang sejajar dengan pengusaha laki-laki.

Pertamina melalui Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK), kata Brasto, terus berkomitmen untuk mendampingi mitra binaannya berdaya dan melestarikan budaya sekitar.

Pertamina menargetkan penyaluran Program PUMK Regional Jawa Bagian Tengah (Jateng dan DIY) Pertamina sebesar Rp 7,5 miliar pada tahun 2021. Dari jumlah itu, kata Brasto, telah terealisasi pendanaan untuk UKM sebesar Rp 7,2 miliar.

Brasto menyebutkan ada sebanyak 23 mitra binaan Pertamina di sektor UKM di Kabupaten Kudus. Salah satunya Yuli Astuti yang merupakan pemilik Muria Batik Kudus.

Pertamina juga terbuka kepada UKM yang ingin bergabung menjadi mitra binaan. Harapan kami semakin banyak UKM yang menjadi mitra binaan dan mendapatkan akses luas seperti yang telah dirasakan Muria Batik Kudus,” katanya.

 

 

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemodal Tiongkok Minati Investasi Biogas di Kudus

Senin, 24 Januari 2022 | 06:55 WIB

Polisi Sikat Pelaku Judi Online di Kudus

Jumat, 21 Januari 2022 | 14:55 WIB

Kebakaran di Pasar Kliwon, Kantor BRI Unit Kota Ludes

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:23 WIB

Hanura Perintahkan Kader Hadir di Tengah Masyarakat

Kamis, 30 Desember 2021 | 17:20 WIB
X