'Berlayar' Jauh dengan Kapal Kandas, Siasat Pebatik Bertahan di Tengah Pandemi

- Rabu, 27 Oktober 2021 | 22:25 WIB
Pemilik Muria Batik Kudus Yuli Astuti menjelaskan motif batik kapal kandas kepada Area Manager Comm, Rell & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho, Selasa (26/10). (suaramerdeka.com/Saiful Annas)
Pemilik Muria Batik Kudus Yuli Astuti menjelaskan motif batik kapal kandas kepada Area Manager Comm, Rell & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho, Selasa (26/10). (suaramerdeka.com/Saiful Annas)

Melihat kondisi itu, Yuli pun membulatkan tekad untuk terjun menggeluti batik tulis. Lewat selembar kain batik, Yuli bercerita tentang Kudus sekaligus mengangkat kembali citra batik tulis khas Kudus.

Di era 1940-an hingga tahun 1970-an, kata Yuli, Kudus terkenal dengan produk batiknya. Kemudian di medio 1970, batik Kudus mulai mengalami pasang surut karena peralihan tren industri di kota Kudus.

Paham dengan sejarah jatuh bangun industri batik di kota kelahirannya tersebut, Yuli bertekad untuk menjadi sociopreneur dengan melakukan pelatihan bagi anak-anak sekolah, anak-anak difabel, dan perempuan di sekitar tempat usahanya di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

“Ini warisan budaya Indonesia, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk dapat memberikan warisan budaya ini kepada generasi masa kini,” kata Yuli.

Atas komitmen dan kerja kerasnya itu, bisnis Yuli dilirik Pertamina menjadikannya mitra binaan pada 2017. Setahun kemudian, Yuli mendapat penghargaan juara pertama untuk Local Hero Pertamina 2018.

Kemitraan itu seolah membuka lebar-lebar jalan bisnis Muria Batik Kudus. Beragam pelatihan, pameran, dan fashion show seperti di Malaysia hingga pameran virtual yang baru-baru ini dilaksanakan yaitu Pertamina SMEXPO 2021.

“Selain pendampingan itu kami juga mendapat akses pinjaman lunak. Di awal-awal usaha dulu bahkan ditawari Pertamina pinjaman hingga Rp 50 juta. Namun karena usaha belum stabil, saya malah takut. Takut tidak bisa mengembalikan,” kenangnya.

Dengan modal surat kendaraan miliknya, ia pun memberanikan mengajukan pinjaman Rp 10 juta. Tak dinyana, Pertamina justu memberi pinjaman hingga Rp 15 juta. Angka itu bahkan jauh lebih tinggi diatas harga sepeda motor miliknya.

“Dengan pendampingan dan pinjaman lunak itu, Alhamdulillah usaha berkembang. Saat ini bahkan dipercaya dengan kucuran pinjaman modal dari Pertamina hingga Rp 150 juta,” ujarnya.

Sadar akan luasnya pangsa pasar batik tulis khas Kudus, Yuli pun serius menggarap pasar segmen kelas atas melalui batik premium. Batik jenis inig diminati kaum hawa di berbagai daerah di Indonesia.

Halaman:

Editor: Abdul Muiz

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemodal Tiongkok Minati Investasi Biogas di Kudus

Senin, 24 Januari 2022 | 06:55 WIB

Polisi Sikat Pelaku Judi Online di Kudus

Jumat, 21 Januari 2022 | 14:55 WIB

Kebakaran di Pasar Kliwon, Kantor BRI Unit Kota Ludes

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:23 WIB

Hanura Perintahkan Kader Hadir di Tengah Masyarakat

Kamis, 30 Desember 2021 | 17:20 WIB
X