Balar Yogyakarta : Relief Lambang Cakra Watu Payon di Gunung Muria Temuan Menarik

- Selasa, 14 September 2021 | 17:32 WIB
Tim peneliti saat melihat kondisi Watupayon yang berada di Puncak Tremulus tepatnya di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu kemarin. (suaramerdeka.com/Beni Dewa)
Tim peneliti saat melihat kondisi Watupayon yang berada di Puncak Tremulus tepatnya di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu kemarin. (suaramerdeka.com/Beni Dewa)

PATI, suaramerdeka-muria.com – Balai Arkeologi Yogyakarta mensurvei Watu Payon yang berada di Puncak Tremulus Gunung Muria tepatnya di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu.

Sejumlah temuan menarik pun didapati.

Penelusuran itu dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Hery Priswanto dari Balai Arkeologi DIY serta dibantu sejumlah pemuda desa Gunungsari dan kelompok pegiat alam di Kabupaten Pati.

Penelusuran itu sendiri dilakukan dalam rangka riset dan pendataan terhadap sejumlah benda atau bangunan yang diduga masuk dalam cagar budaya.

Baca Juga: 15 Fakta Unik Perangkat Desa di Lasem Antarkan Istrinya Menikah Lagi

Sementara dalam penelusuran itu mereka ditemani oleh Ragil Haryo perwakilan dari tim ahli cagar budaya Kabupaten Pati.

“Temuan ini sangat unik, karena baru ini ditemukan di lereng Muria. Berbeda dari temuan lain yang berupa punden berundak maupun candi yang ada di wilayah Muria,” ujar Hery.

Dia menambahkan, adanya relief lambang cakra yang berada di bawah batu watu payon menandakan bahwa adanya pengaruh Hindia atau Hindu sebagai sebuah peribadatan.

Baca Juga: Edan, Dililit Utang, Perangkat Desa di Lasem Ini Carikan Istrinya Suami Kedua Melalui MiChat

“Ini tentu perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak untuk menjaga dan melestarikan benda yang sangat bisa menjadi aset kekayaan Kabupaten Pati ini. Terutama menyelamtkan dari hal-hal yang bisa merusak dan menghilangkan,” imbuhnya.

Sementara itu Ragil Haryo menambahkan, temuan Watu Payon memang dinilai menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Terlebih hanya itu yang ada di kawasan Muria.

Baca Juga: Alami Masa Sulit,Usaha Transportasi Berusaha Bangkit

“Apalagi di simbol cakra itu juga ada kombinasi ornamen bentuk phallus. Hal itu dimungkinkan merupakan peninggalan yang dgunakan berkelanjutan di zaman setelahnya.Karena bentuknya yang mirip dengan peti kubur batu. Hanya saja dia mengaku masih diperlukan penelitian yang lebih komprehensif,” paparnya.

Dia pun berharap ke depannnya perlu upaya nyata usaha penyelamatan dan pelestarian yang sesuai undang-undang cagar budaya dari masyarakat sekitar dan instansi terkait.

Baca Juga: Aplikasi MiChat Kerap Disalahgunakan, Transaksi Prostitusi di Kota Pesisir, Pelakunya Masih Muda-muda

“Minimal ada papan peringatan dan pemberintahuan bahwa watupayon merupakan warisan leluhur yang dilindungi Undang-Undang,” tandasnya.

Halaman:

Editor: Ilyas al-Musthofa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Waktu Penyelesaian Gedung Senam Pati Ditambah

Sabtu, 27 Mei 2023 | 09:19 WIB
X