Mengenal Kidungan Teks Pakem Kajen, Tradisi Penyampaian Ajaran Waliyullah Mbah Mutamakkin

- Kamis, 9 September 2021 | 18:42 WIB
Kidungan Teks Pakem Kajen, salah satu manuskrip berisikan ajaran dari Mbah Mutammakin. (suaramerdeka.com/Beni Dewa)
Kidungan Teks Pakem Kajen, salah satu manuskrip berisikan ajaran dari Mbah Mutammakin. (suaramerdeka.com/Beni Dewa)

PATI, suaramerdeka-muria.com – Komunitas budaya Kaneman Kajen Jonggringan (Kanjengan) memiliki cara tersendiri dalam mengisi Haul Waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin.

Mereka memilih menggelar kembali Kidungan Teks Pakem Kajen, salah satu manuskrip berisikan ajaran dari Mbah Mutammakin.

Kidungan itu sendiri sebenarnya telah menjadi tradisi bagi warga Kajen.

Namun manuskrip yang ditulis pada tahun 1891 ini terakhir ditembangkan pada tahun 1950-an di Pasareyan Mbah Mutamakkin alias Kiai Cabolek alias Pangeran Hadikusuma, cucu Raja Pajang, Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya.

Baca Juga: Tak Sembarangan Pengunjung Boleh Masuk Wisata Hutan Mangrove Jembatan Merah Rembang

Penulis manuskrip adalah Kiai Abdul Karim dari Margotuhu Ngerojo.

Sempat terhentinya tradisi tersebut lantaran panambangnya meninggal dunia.

Hal itulah yang kemudian membuat Kaneman Kajen mencoba merevitalisasinya kembali, menembangkan satu-satunya manuskrip yang menyimpan ajaran Dewa Ruci versi Mbah Mutamakkin.

“Satu-satunya. Sebab dalam manuskrip-manuskrip yang lain, misalnya Serat Cabolek (yang ada belasan versi itu), Ketib Anom yang membabar Dewa Ruci,” terang Taufiq Hakim.

Baca Juga: Pejabat Pemkab Rembang Ikuti Rapat Koordinasi dengan KPK, Ini Maksudnya!

Halaman:

Editor: Ilyas al-Musthofa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tiba-tiba Desa di Pati Ini Diterjang Banjir Bandang

Senin, 28 November 2022 | 10:16 WIB

HGN 2022, MTs Negeri 1 Pati Luncurkan Buku Karya Guru

Minggu, 27 November 2022 | 23:29 WIB
X