Teater Tigakoma : Angkat Isu Kesehatan Mental dalam Lakon Jeritan Kebisuan

- Senin, 1 Agustus 2022 | 18:39 WIB
Teater Tigakoma angkat cerita Jeritan Kebisuan. (suaramerdeka-muria.com/Beni Dewa)
Teater Tigakoma angkat cerita Jeritan Kebisuan. (suaramerdeka-muria.com/Beni Dewa)

Namun Wena termasuk dalam kategori siswa yang progresif.

Ketika ia dikucilkan oleh lingkungannya ia menjumpai seorang teman yang mempunyai niat baik kepadanya.

Seorang siswa laki-laki bernama Bram meyakinkan padanya; bahwa manusia ditakdirkan lahir di dunia untuk menjadi berarti.

Suatu ketika Wena mendapat perlakuan yang tidak wajar dari teman-temannya dan Bram menolongnya.

Dari situ Wena menjadi lebih terbuka kepada Bram, namun belum sepenuhnya Wena percaya untuk perlakuan baiknya Bram.

Namun pertengkaran kedua orang tua Wena membuatnya semakin terpuruk. Wena selalu merasa sepi dan sendiri.

Ia akan sangat terganggu dengan suara keras dari pertengkaran keduanya.

Saat seperti itu, secara tak sadar dia akan menjerit menangis tak karuan, menari untuk sekadar ketenangan dan pelampiasan kemarahan, puas.

Baca Juga: Teater AS STAI Pati : Kritik Kehidupan Berbangsa Melalui Teatrikal Puisi

Pada akhirnya kedua orang tua Wena berpisah dan mengurungnya pada kegelapan yang mendalam, karena sikap serta kelakuannya yang janggal.

Halaman:

Editor: Ilyas al-Musthofa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X